Sabtu, 08 Februari 2014

HARI PERS NASIONAL 2014


Hari Pers Nasional (HPN) akan diperingati pada 9 Februari 2014. Mungkin banyak orang yang tidak tahu mengenai peringatan HPN yang diselenggarakan tiap tahun itu. Sejarah munculnya HPN sudah dimulai pasca kemerdekaan RI tahun 1946. Pada saat itu bertempat di Solo (saat ini menjadi museum pers Solo), tanggal 9 Februari diadakan pertemuan para wartawan dan kemudian membentuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Pada kongres PWI ke-16 di Padang tahun 1978, Harmoko, pimpinan PWI saat itu mengusulkan kepada pemerintah agar hari lahir PWI diperingati sebagai Hari Pers Nasional. Namun hal ini baru terwujud pada tahun 1985 saat pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Presiden No. 5/ 1985, yang pada intinya menetapkan bahwa hari lahir PWI secara resmi menjadi Hari Pers Nasional.

Keputusan sidang Dewan Pers ke-26 di Ambon pada 11-13 Oktober 1985 menetapkan bahwa HPN diselenggarakan tiap tahun secara bergantian di ibu kota propinsi se-Indonesia. Penyelenggaraan HPN pada tahun 2014 kali ini diselenggarakan di kota Bengkulu sejak tanggal 6-10 Februari. Penyelenggaraan HPN tahun ini sangat spesial karena bertepatan dengan “tahun politik”. Tema HPN tahun ini adalah, “Pers Sehat, Rakyat Berdaulat”. Hari Pers Nasional merupakan ajang penyatuan masyarakat pers untuk kemajuan pers Indonesia demi mewujudkan bangsa yang maju. Peran pers sangat penting menemani perjalanan bangsa Indonesia dan mengabadikan setiap peristiwa sejarah kepada generasi penerus bangsa agar dapat mengambil pelajaran dan hikmah.

Perjalanan pers sempat mengalami masa suram pada zaman Orde Baru. Ketika itu rezim Orde Baru benar-benar sudah menguasai dan mengendalikan pers. Semua orang pers selalu membuat berita yang baik-baik tentang pemerintahan Orde Baru. Tapi sangat tertutup terhadap berita-berita yang sifatnya mengekspose keburukan Orde Baru, bahkan kritik sekecil apapun seperti dimatikan. Tidak ada transparansi dan kebebasan pers kala itu. Media pemberitaan benar-benar tidak mengalami kemajuan sama sekali. Sistem pemerintahan terpusat dengan sangat kuat menghardik pers yang mencoba memuat berita kebobrokan pemerintah. Stasiun televisi nasional TVRI dan radio nasional RRI mendominasi pemberitaan di Indonesia.
Puncak dari kekesalan rakyat kemudian menimbulkan kerusuhan pada tahun 1998. Krisis ekonomi yang melanda beberapa Negara di dunia dan termasuk Indonesia membuat harga barang-barang kebutuhan pokok melambung tinggi dan membuat rakyat semakin sengsara. Masyarakat pers juga bersatu dan kemudian berani melawan bersama rakyat yang dipelopori oleh mahasiswa untuk meruntuhkan rezim Orde baru. Pemberitaan saat itu di berbagai media langsung berani menyoroti kebobrokan pemerintah. Berita kerusuhan tersiarkan ke seluruh penjuru dunia. Mengabarkan pada khalayak ramai bahwa pemerintahan Orde Baru sudah tidak mampu lagi memimpin Indonesia dan layak untuk dilengserkan. Semua keburukan Orde Baru kemudian menjadi bahan pemberitaan pers dengan begitu bebasnya.

Setelah berakhirnya Orde Baru dan beralih ke masa Reformasi, pers nasional makin berkembang pesat. Hal ini terbukti dengan bermunculannya berbagai sarana media seperti stasiun televisi baru, stasiun radio baru, koran-koran baru, dan masih banyak lagi. Pemberitaan pers juga menjadi bebas daripada pada masa Orde Baru. Bahkan cenderung terlalu bebas dan melanggar hak-hak pribadi. Sudah banyak orang yang dirugikan oleh pemberitaan pers yang keterlaluan dan masuk terlalu jauh ke kehidupan pribadi orang lain. Hal inilah yang membuat ada kontradiksi dalam masyarakat terhadap sepak terjang pers nasional. Ada yang menganggap bahwa pemberitaan itu harus lugas, menyeluruh, mendalam dan transparan. Namun banyak juga yang menganggap bahwa pers telah bergerak terlalu jauh masuk ke dalam privasi orang.

Terlepas dari kontradiksi dalam masyarakat, peran pers memang sangat penting dan sangat dibutuhkan suatu bangsa untuk menjadi lebih maju. Seperti tema peringatan HPN 2014 “Pers sehat, rakyat berdaulat”, diharapkan pemberitaan pers tetap pada jalur yang benar dan tidak melanggar kode etik pers. Denagn demikian pers sehat akan menjadi salah satu tonggak terciptanya demokrasi Indonesia yang kuat dengan rakyat berdaulat sebagai subjeknya.

Selamat Hari Pers Nasional.

0 komentar:

Poskan Komentar

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template