Senin, 21 Juli 2014

Hadiah Terindah di Hari Anak



Selamat Hari Anak untuk seluruh anak Indonesia !

Hadiah apakah yang akan kita berikan untuk anak pada Hari Anak Nasional – 23 Juli ?
Apa yang anak suka ?
Apa yang kira-kira berguna bagi anak ?
Apa yang membuat anak terkesan ?

Hadiah adalah hal yang sangat disenangi oleh anak. Lihat saja bagaimana ekspresi wajah anak-anak saat menerima hadiah, walaupun mungkin hadiah itu sesuatu yang murah harganya.

Lihat juga bagaimana ekspresi wajah anak yang tidak mendapatkan hadiah, saat teman-teman lainnya mendapatkan hadiah. Waktu kecil, saya merasa sedih sekali jika melihat teman-teman mendapatkan hadiah, sementara saya tidak. Apa sebenarnya makna hadiah bagi seorang anak ?

Berapa pun harganya, jika hadiah diberikan dengan sebuah ketulusan dan dipersiapkan dengan baik sesuai dengan kebutuhan si penerima, maka hadiah itu akan sangat berkesan dan berguna baginya. Hadiah biasanya diberikan pada saat seseorang berulang-tahun atau jika seseorang mencapai prestasi tertentu. Tetapi bisa juga hadiah diberikan pada saat perayaan-perayaan penting, seperti saat hari raya/hari istimewa lainnya. Dengan demikian, sesungguhnya hadiah adalah sebuah bentuk perhatian, yang diharapkan bisa memotivasi seseorang untuk bisa hidup lebih baik lagi, terus berprestasi dan menyadari bahwa dirinya berharga.

Andai Hari Anak Nasional dianggap sebagai Hari Ulang Tahun Anak Indonesia, sungguh luar biasa! Bayangkan! 70,5 juta anak merayakan ulang tahun secara nasional setiap tanggal 23 Juli. Mereka bermain, bergembira dan mendapatkan hadiah pada Hari Ulang Tahun Anak Indonesia.

Saya membayangkan Indonesia sebagai sebuah “keluarga” yang harmonis dimana Pemerintah adalah “orang tua”-nya. Keluarga Indonesia ini sangat bahagia, dimana anak-anak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, mendapatkan gizi yang cukup, mendapatkan pendidikan yang berkualitas, mendapatkan pelayanan kesehatan yang terbaik, anak mendapatkan perlindungan dari orangtua, tidur di rumah yang layak, memiliki identitas yang jelas, memperoleh kesempatan bermain, memiliki keluarga yang rukun, orang tuanya bekerja keras demi anak, penghasilan orang tua digunakan untuk kesejahteraan keluarga, orang tua tidak mengambil hak anaknya, orang tua bisa berkomunikasi dengan baik - tanpa kekerasan. Saat anak-anaknya berulang tahun, sang “orang tua” memberikan hadiah yang terbaik dan mengadakan syukuran sederhana, sekaligus melihat perkembangan anaknya selama ini dan memikirkan apa yang harus dipersiapkan untuk perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya.

Namun sepertinya bayangan saya masih sebuah impian yang belum jelas kapan akan terwujud. Kenyataannya, banyak kejadian dan berita yang memprihatinkan kita semua, seperti beberapa fakta berikut ini:

  • Banyak anak tidak tahu, kalau tanggal 23 Juli adalah Hari Anak Nasional. Jangankan Hari Anak Nasional, hari ulang tahunnya saja banyak yang tidak tahu, karena banyak yang tidak memiliki indentitas / akte kelahiran.
  • Kompas, 17 Desember 2009, memuat berita dari 70,5 juta anak Indonesia, 17,7 juta (25%) dalam kondisi terlantar dan hampir terlantar. Pemerintah sebagai “Orang tua” dari anak-anak Indonesia baru bisa menangani 4% dari 17,7 juta ( 1 juta anak ) per tahunnya.
  • Banyak anak tidak mendapatkan perlindungan, mereka mengalami kekerasan fisik di keluarga, sekolah maupun tempat-tempat umum. Bahkan rumah yang seharusnya memberikan rasa aman dan tempat berlindung, sekarang sudah tidak aman lagi dengan banyaknya “bom” kompor tabung gas 3 kg yang meledak.
  • “Orang tua” (baca: Negara) mengambil hak anaknya sendiri, anak dieksploitasi untuk menghidupi keluarga, penghasilan “Orang tua” tidak digunakan untuk membesarkan dan mendidik anak, tetapi dikorupsi dan difoya-foyakan.
  • Banyak anak kehilangan hak bermain, mereka tidak bisa bermain karena harus bekerja mencari uang untuk menghidupi orang tua dan Negara. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan BPS, menunjukkan bahwa jumlah anak (10-17 tahun) yang bekerja pada tahun 2005 di Indonesia jumlahnya telah mencapai 35,0 juta orang.
  • Banyak anak yang hidup dalam kondisi di garis kemiskinan dan dibawah garis kemiskinan. Data BPS 2010, jumlah penduduk miskin di Indonesia ada 31 juta. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya anak yang hidup bersama orang tua yang miskin, mereka tinggal di rumah yang tidak layak huni, tidak bisa membayar pendidikan yang berkualitas, tidak sanggup membayar pelayanan kesehatan yang baik, mereka tidak bisa mendapatkan lingkungan yang sehat.
  • Banyak anak dipastikan tidak mendapatkan gizi yang cukup, karena pola konsumsi yang asal. Ini bisa dilihat dari laporan BPS 2010, tentang komoditi yang paling penting bagi penduduk miskin untuk dikonsumsi adalah sebagai berikut : 1. Beras (58%); 2. Rokok (12%); 3. Gula Pasir (7%); 4. telur (6%); 5. Mie Instan (6%); 6. Tempe (3%); 7. Kopi (2.51%) ; 8. Tahu (3.5%); 9. Bawang Merah (3%).
  • Banyak kasus-kasus perdagangan anak dan prostitusi anak.

Kondisi di atas hanya gambaran kecil dari kondisi buruk yang dialami oleh anak Indonesia.

Hari Anak yang sudah diadakan selama 24 tahun, sejak dicanangkan oleh Presiden Suharto tahun 1986, berdasarkan Keputusan Presiden RI No.44/1984 tentang Hari Anak Nasional, ternyata belum banyak memberikan dampak yang besar untuk anak Indonesia dan “orang tua” belum memberikan hadiah yang berarti untuk anak-anaknya.

Perayaan Hari Anak Nasional perlu lebih dimaknai lebih dalam, memang tidak otomatis akan merubah kondisi yang buruk menjadi baik, karena tentu saja hal tersebut tidak semudah membalikan telapak tangan.

Perayaan Hari Anak Nasional harus menjadi momentum sebuah gerakan peduli terhadap anak Indonesia. Sebuah gerakan yang membangun kesadaran dan kepedulian bangsa Indonesia untuk memperhatikan, mencintai, dan mengasihi anak dengan sungguh-sungguh.

Pemerintah, Pengusaha, Pendidik, Pers, Individu termasuk anak harus ikut dalam gerakan ini. Kelihatan besar dan rumit? TIDAK ! Kita bisa mulai dari tindakan yang kecil dan sederhana, yaitu MAU MENJADI SAHABAT BAGI ANAK-ANAK di SEKITAR KITA.

Sahabat menyimpan makna kesetaraan, saling berbagi dan saling memperhatikan. Semangat persahabatan akan berdampak luar biasa dan akan membuat Bangsa Indonesia menjadi pro-anak yang memperhatikan dan memperjuangkan hak-hak anak.

Hadiah terbaik dan terindah saat ini bagi anak-anak Indonesia di Hari Anak 23 Juli adalah memberikan diri kita untuk mau menjadi SAHABAT, yang menaruh KASIH di setiap waktu.

Gerakan menjadi sahabat anak (baca: Gerakan Sahabat Anak) merupakan tindakan sederhana tetapi memberikan dampak besar, kita bisa tahu permasalahan anak dan menemukan solusi dengan cara bersahabat dengan anak-anak, bukan hanya mengamati dari jauh.

Menjadi teman “curhat”, bermain bersama, bersentuhan langsung, menyediakan waktu, membacakan cerita untuk anak adalah hal-hal kecil yang semua orang bisa lakukan dan disukai anak.

Perhatian terbesar dan Hadiah terbaik kepada anak bukan dengan memberikan materi, barang atau membuat kebijakan, tetapi memberikan waktu untuk selalu dekat dengan mereka.

Terima kasih untuk kita semua yang sudah menjadi sahabat bagi anak Indonesia.

Selamat Ulang Tahun Anak Indonesia !


S.S. Benyamin Lumy
Pembina Sahabat Anak



0 komentar:

Poskan Komentar

Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template